EDUKASI

25 Mei, 2008

SALAH DIDIK SOAL PANGAN

Filed under: Uncategorized — edukasipress @ 11:20 am
Tags:

Kompas edisi Jum’at 23 Mei 2008 mewartakan diskusi di dalam Seminar yang diselenggarakan oleh Puslit Biologi LIPI bekerjasama dengan Plant Resources of South East Asia Association (Prosea) hari Kamis 24 Mei 2008 di IPB Bogor, dengan judul “Sumber Daya Hayati dan Pertanian: Mengapa Potensi Hayati Belum Termanfaatkan?”.

Menarik disimak pendapat panelis IPB (Edi Santosa, Departemen Agronomi dan Hortikultura) yang mengatakan ; Krisis pangan dunia akibat masuknya pialang ke bursa komoditas, seharusnya membawa berkah bagi Indonesia, yang keanekaragaman hayatinya luar biasa (megadeversity).
Sejak dicanangkannya Revolusi Hijau (1960), pertanian cenderung fokus pada peningkatan produktivitas pangan primadona yaitu; padi, jagung dan kedelai. Tanaman pangan tradisional seperti “suweg, iles-iles, sagu dan ubi jalar (*telo rambat)” telah diberi stigma negatif yakni kemiskinan dan kemelaratan.

Di Jepang, pendidikan cara makan (shokuiki) di ajarkan sejak abad ke 18 (jaman restorasi Meiji) sampai sekarang. Sehingga timbul rasa malu kalau belum berkarya (belum melakukan pekerjaaan) sudah makan terlebih dahulu, dan hal ini ditandai dengan keluarnya keringat seletelah bekerja keras yang menjadi kebanggaan mereka.
Lain halnya dengan kita, yang justru menyuburkan anekdot “belum makan namanya kalau belum makan nasi”, dan bangganya bukan main keluar keringat setelah makan,…..eeehhmm mohon jangan bertanya sudah berkarya/melakukan pekerjaan atau belum saat akan makan.

Seharusnya stigma negatif (dalam pendidikan) tentang bahan pangan pokok segera dihilangkan seperti pembelajaran di Sekolah Dasar yang menyampaikan bahwa “pisang adalah makanan monyet” bahkan saya saat masih anak-anak dilarang makan pisang (gedang ijo) yang ada di bagian tepi tandan (lirang) dengan alasan pisang yang besar itu sudah menjadi haknya si “buto ijo”.
Wallahualam, siapa si Buto Ijo tersebut.

Menurut panelis lain dalam seminar tersebut (Justika S Baharsyah) kita harus berhati-hati menerapkan kebijakan menggantikan bahan bakar fosil (yang tak terbarukan seperti halnya minyak bumi) dengan bahan bakar terbarukan (biofuel).
Jangan terpeleset lagi biofuel diproduksi dari bahan pangan seperti halnya dari jagung atau singkong, karena hal ini kontradiktif dengan KETAHANAN PANGAN itu sendiri.
Jangan terpeleset lagi membiarkan calo dan tengkulak bergentayangan di dalam kehidupan keseharian petani kita, sehingga saat panen, harga gabah anjlok serendah-rendahnya (sak pol-pole) sedangkan saat musim tanam dan musim semi harga benih serta harga pupuk na’udzubillah mahalnya.

Kita semua tahu hal itu, karena kita pernah sukses mengelola pangan dan memperoleh penghargaan serta dicontoh oleh banyak bangsa lain di dunia (era Wijoyonomic di awal Orde Baru), akan tetapi mengapa kita “tak mampu/tak mau” mengulangi kesuksessan itu (tanpa harus mengulangi kekurangannya)?.
Itulah pertanyaan orang awam terhadap perubahan politik, lho…. kalau begitu kita harus berkorban demi pilihan politik?, apakah memang kita sudah siap makan politik saja? .
Demi harga diri sebagai konsekuensi kesepakatan WTO? waaah kalau yang ini ada cuplikan beritanya sebagai berikut;
Lee Kyung Hae Ketua Kelompok Tani Korea Selatan, rela mati diujung bayonet Petugas Keamanan Mexico, saat dirinya melakukan protes keras terhadap berlangsungnya Konferensi Internasional WTO, di Cancun 10 September 2003 yang lalu. Mengapa? karena protes kerasnya terhadap kebijakan WTO yang tidak berpihak kepada petani miskin tidak pernah digubris.
Mengapa suara petani miskin tidak digubris WTO?, berikut cuplikan tulisan dari pemerhati WTO : “Telah terjadi ironi bagi negara berkembang anggota WTO, karena negara harus tunduk menjalankan kuwajiban di bawah WTO, akan tetapi perusahaan-perusahaan swasta multinasional-lah yang lebih menikmati keuntungannya”. Demi kepentingan perusahaan raksasa lintas negara itulah pemerintah negara berkembang terpaksa mengikuti perundingan keras peraturan global, dan sangat mungkin mengorbankan kepentingan rakyat kecil atau petani miskin (Hira Jhamtani, 2005)

Dan saya yakin hal itu tidak dilakukan oleh pengambil kebijakan di bidang ekonomi, perdagangan dan pertanian demi gengsi, karena …….hanya “pendidikan dan kepedulian” beliau yang bisa menjawab!.
Menutup tulisan ini perkenankan saya menuliskan kembali syair lagu yang selalu kita nyanyikan saat di sekolah dulu (kok jadi sentimentil gini yaah) ;

TANAH AIR
Tanah Air ku tidak kulupakan
Kan terkenang sepanjang hidupku
Walaupun saya pergi jauh
Tidak kan hilang dari kalbu
Tanahku yang kucintai Kau kan kuhargai

Walaupun banyak negeri kujalani
Yang masyur permai di kata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Di sanalah ku rasa senang
Tanahku tak kulupakan
Kau kan kubanggakan.

Sekali lagi “Wallahualam bissawab” yang mana saja yang salah didik soal pangan.

sumber: al. Kompas, Mei 2008, http://alumnisma1kediri69.blogspot.com/

23 Mei, 2008

bangkit pemudaku!

Filed under: Uncategorized — edukasipress @ 8:56 pm

Sebegitu besar dan pentingnya peranan anak muda di dalam melakukan perubahan menuju kondisi yang lebih baik, telah direkam oleh sejarah bangsa ini, sejak merintis kemerdekaan di tahun 1908 sampai pada mereformasi arah pengisian kemerdekaan di tahun1998.
Tak heran bila Bung Karno lebih memilih menggenggam kekuatan bara api semangat seribu pemuda yang akan beliau gerakkan untuk memindahkan gunung Semeru (Mahameru) ke tempat Indonesia sejahtera, adil dan makmur.
Dan sekarang di saat seratus tahun “awal babak baru” kebangkitan kita sebagai bangsa merdeka (20 Mei 1908 – 20 Mei 2008)kembali kita HARUS BANGKIT UNTUK MEMERDEKAKAN PIKIRAN KITA DARI BELENGGU KETIDAKFAHAMAN AKAN ARTI “MERDEKA”.

Perkenankan saya mengutip ucapan Deddy Miswar melalui layar kaca RCTI yang diputar berulang sejak 20 Mei 2008 pukul 21.05 wib, berupa URAIAN KATA INDAH SEKALIGUS HEROIK, BAHKAN MENGGELITIK nurani anak bangsa yang faham akan arti “MERDEKA” sebagai berikut;
Bangkit itu susah, susah melihat orang susah , senang melihat orang senang.
Bangkit itu takut, takut korupsi, takut makan yang bukan haknya.
Bangkit itu mencuri, mencuri perhatian dunia dalam prestasi.
Bangkit itu marah, marah bila martabat bangsa diinjak.
Bangkit itu tidak ada, tidak ada kata menyerah, tidak ada kata putus asa.
Bangkit itu malu, malu menjadi benalu, malu karena minta melulu.
Bangkit itu aku, untuk bangsaku.

* dan….Bangkit itu berbuat, berbuat sesuatu untuk mewujudkan secara nyata cita-cita bangsa merdeka yang benar-benar menikmati kesejahteraan bangsanya secara merata!.

Selamat pemudaku, selamatkan bangsa ini dengan gelora semangatmu untuk merdeka!.

Cijantoeng Tiga Jakarta, medio Mei 2008

17 Mei, 2008

KEMERDEKAAN BERPIKIR YANG TIDAK MERDEKA

Filed under: Uncategorized — edukasipress @ 7:15 am
Tags: ,

Memenuhi janji saya untuk memuat suatu berita yang menarik tentang implementasi Kebijakan Pendidikan di lapangan (Program Bebas Buta Angka/Aksara) dari Depdiknas, berikut secara lengkap saya “copy” isi berita tersebut dari sumbernya.
Diakhir berita,  saya  memberikan komentar, dan Anda boleh mengomentarinya, dengan meng-“klik” di pada tulisan komentar dan menuliskannya.

Aparat Desa Kritik Pedas Mendiknas
http://menkokesra.go.id — Berita 6 APRIL 2008:
Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo menuai kritik pedas dari aparat pemerintahan desa. Bambang dianggap selama ini lebih percaya kepada laporan bawahannya, tanpa pernah meneliti kebenarannya.

Kritikan itu disampaikan aparat desa kepada Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) saat menjadi pemateri dalam Kongres Gerakan Ekonomi Masyarakat (Gema) Desa di Asrama Haji Donohudan, Boyolali, Jawa Tengah, Minggu (6/4).

Salah satu kritikan dilontarkan Karsidi, Kepala Desa Karanggayam, Kecamatan/Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Di hadapan ribuan kepala desa, lurah, dan kepala dusun peserta kongres yang berasal dari 1.000 desa se-Jawa Tengah, Karsidi dengan lantang mempertanyakan program penuntasan buta aksara yang selama ini dikatakan telah berhasil.

Padahal, katanya, jumlah warga yang tidak bisa baca, tulis, dan berhitung di pedesaan masih sangat tinggi. “Mungkin di kantor Bapak di Jakarta sana, selalu menerima laporan bahwa desa-desa sekarang sudah bebas buta aksara. Padahal, itu hanya pesanan dari atas. Lihat saja Temanggung, daerah asal Bapak, dan Jawa Tengah khususnya. Masih banyak yang buta huruf,” kata Karsidi disambut suara riuh peserta lain.

Karsidi bahkan dengan terang-terangan menolak keberadaan pendidikan kesetaraan yang dinilainya berkualitas rendah.

Menanggapi kritikan Karsidi, Mendiknas menegaskan bahwa selama ini dia dan jajarannya selalu mencoba berprasangka baik kepada aparat yang berada di daerah. Kalau kemudian ternyata laporan yang mereka terima selama ini tidak sesuai kenyataan, itu artinya aparat di daerah, termasuk para kepala desa dan jajarannya yang telah melakukan kebohongan.

Baru sekarang saya sadar kalau telah dibohongi. Ini akan saya teliti lebih jauh, kalau ternyata bohong, saya akan lapor ke Presiden bahwa aparat desa banyak yang bohong,” kata Mendiknas.

Terkait tuntutan agar kualitas pendidikan kesetaraan sama dengan pendidikan formal, Mendiknas menegaskan hal itu sulit diwujudkan. “Namanya saja pengganti. Kalau minta sama, tentu tidak mungkin. Ini demi keadilan, supaya jangan ada warga yang tidak bisa sekolah,” ujarnya.

Meski kualitasnya tidak sama dengan pendidikan formal, ujarnya, namun untuk pengakuan terhadap ijasah tetap sama, dijamin undang-undang sistem pendidikan nasional. Sehingga, kalau ada sekolah atau perguruan tinggi yang menolak, bisa dituntut di pengadilan. (mo/pd)

KOMENTAR : Komentar saya berupa saran (itupun kalau mau didengar)

1. Kualitasnya beda kok pengakuannya sama?. Ungkapan kebijakan seperti ini bertolak belakang dengan konsepsi kualitas yang harus mengacu pada pilar OBJEKTIVITAS, KETERBUKAAN, KEJUJURAN dan PERTANGGUNG-JAWABAN. Sebaiknya ada kalimat pintar yang benar-benar cergas (cerdas dan lugas) untuk menjawab statemen publik seperti kasus di atas, tanpa meninggalkan konsepsi mutu/kualitas (kalau ingin dinilai bermutu “tinggi”).

2. Bagi teman-teman yang bertugas pada Direktorat Jenderal Pendidikan (yang dianggap mutu/kualitas output kinerja pendidikannya rendah) jangan berkecil hati. Karena memang kondisi input peserta didik dan instrumental input dari proses pendidikannya juga berbeda. Sabar…kejar ketertinggalan layanannya!.

3. Statemen publik yang terkesan memaksakan kehendak, tidak banyak menolong proses pembenaran yang hakiki, oleh karena itu seyogyanya kita dapat mengelola kritik sebagai aset berharga, yang pada saatnya kelak justru akan menjadi nilai tambah untuk diakses. Tidak mudah memang, akan tetapi hal itu menjadi kuwajiban dari setiap pelayan publik dan bukan MINTA DILAYANI PUBLIK (yang menjadi stake holder dari kinerja pejabat pelayan publik).

Maaf Sir….

PRESIDENTIAL LECTURE the FIFTH 2008

Filed under: Uncategorized — edukasipress @ 6:49 am

Saya sempat menonton langsung via chanel TVone tayangan kegiatan KULIAH KEPRESIDENNAN tersebut, namun setelah saya membuka berbagai laporan kegiatannya via internet, saya tertarik untuk mengcopy berita yang berasal dari http://www.ipb.ac.id disertai editing kecil disana-sini sehingga enak dibaca, sebagai berikut;

Sekitar 1400 peserta undangan hadir pada kuliah umum dalam ajang Presidential Lecture yang menampilkan Bill Gates, Presiden Microsoft Corporation di Jakarta Convention Center Jum’at(9/5/2008), yang diawali dengan presentasi Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyuno. Dari kalangan mahasiswa, hadir pula berbagai perguruan tinggi di Indonesia antara lain dari UI, ITB, ITS, dan lain-lain serta berbagai kalangan pemerintah, CEO-pimpinan perusahaan, maupun dari para wakil asosiasi bisnis.

Mengambil judul presentasi “The Second Digital Decade“, Bill Gates dengan penuh semangat menyampaikan perkembangan teknologi informasi dunia dalam pengaruhnya terhadap kehidupan masa depan umat manusia, di bidang hiburan, pendidikan, reaseach dan medis.

Banyak contoh yang dibawakan Bill Gates dalam presentasinya dan salah satunya adalah ketika bercerita tentang anak perempuannya yang sedang bersekolah dengan selalu membawa PC (notebook). “Anak saya kerap mengirim e-mail untuk bercerita tentang kejadian sehari-harinya dan mengirimkan nilai yang diperolehnya,” ujar Bill Gates. Selain itu beliau juga bercerita tentang keinginannya untuk dapat memvideokan kuliah para profesor di dunia dan selanjutnya di on line kan ke internet, sehingga semua mahasiswa bisa belajar dari pakar kelas dunia dimanapun dia berada .

Khusus di Indonesia yang sebagian besar penduduknya bekerja di bidang pertanian, Bill Gates menggambarkan bahwa pemanfaatan teknologi informasi (TI) dapat membuat bidang pertanian Indonesia menjadi lebih maju. Bill Gates menyampaikan bahwa melalui penyebaran TI, informasi pertanian dapat dengan mudah diterima oleh seluruh wilayah Indonesia yang terdiri dari berbagai pulau.

Salah satu kejadian yang membuat para peserta ‘kuliah umum’ terkesan adalah ketika Bill Gates mendemokan software astronominya yang diberi nama microtelescope. Microtelescope memungkinkan kita berimaginasi dengan keaadaan luar angkasa. Dalam demo tersebut ditampilkan bagaimana kita mampu menjelajah isi galaksi disertai dengan tampilan-tampilan yang menarik. Bahkan, seorang anak SD pun terlihat mampu membuat presentasi dengan perangkat lunak tersebut dalam menjelajah galaksi.

Usai kuliah ditampilkan presentasi singkat dari Tim Aksara ITB yang berhasil menjuarai ajang perlombaan perangkat lunak yang diselenggarakan oleh Microsoft dengan karya “Perangkat Lunak Bagi Kalangan Buta Aksara”.

Acara diakhiri dengan sesi tanya jawab, Menteri Perdagangan RI, Dr. Mari Elka Pangestu selaku pemandu hanya memberi kesempatan kepada 5 orang peserta yaitu Bapak Gatot Suwondo (Dirut BNI), Rene Patirajawane (wartawan Kompas), James Riyadi (CEO Lippo Group), dan dua orang perwakilan mahasiswa.
Dalam menjawab pertanyaan yang diajukan oleh salah seorang mahasiswa tentang tips dan trik menjadi orang sukses di usia muda, Bill Gates menegaskan, sekolah adalah saat yang paling tepat untuk memenuhi segala keingintahuan kita semua. “Agar masa sekolah dapat dipergunakan secara optimal, maka setiap siswa perlu melakukan program magang di berbagai perusahaan, sebagai bekal merintis sendiri bisnisnya kelak,” ujar Bill Gates.

Meski tidak menyelesaikan sekolahnya, Bill Gates tidak menyarankan tindakannya untuk diikuti. Dengan tegas, Bill Gates mengatakan, sekolah adalah kesempatan penting untuk meraih kehidupan yang lebih baik di masa depan, Oleh karena itu jangan sampai disia-siakan sekolah. Selain itu beliau juga menegaskan betapa pentingnya peran orang tua dalam mendukung cita-cita seorang anak. Ia mencontohkan bagaimana orangtuanya memberikan sebuah komputer sebagai kado di hari ulang tahunnya dan terus mendorongnya untuk maju, misalnya dengan memberi izin dia untuk membuka usaha bengkel komputer di bekas garasi rumahnya.

Selanjutnya beliau menyampaikan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi itu sangat mudah, asal kita sangat senang dengannya. “Kembangkan imaginasi yang kita miliki, dan kemudian sumbangkan pengetahuan itu untuk memajukan bangsa,” sambung Bill Gates sambil menutup jawaban atas semua pertanyaan yang diajukan peserta.

Selama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjadi kepala negara, telah dilangsungkan empat kali “Presidential Lecture” antara lain diberikan Geoffrey Sachs, Direktur Proyek Millenium Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang Millenium Development Goals (MGDs), Nicholas Stern begawan ekonom Inggris yang sekaligus Penasihat Perubahan Iklim dan Pembangunan untuk Pemerintah Inggris. Selanjutnya mantan Perdana Menteri dan mantan Menteri Keuangan Pakistan, Shaukat Aziz yang menyampaikan tentang pembangunan di Pakistan, dan Muhammad Yunus dari Bangladesh–Pemenang Hadiah Nobel Perdamaian tahun 2006–tentang tentang kredit mikro. Dengan demikian, Bill Gates menjadi Presidential Lecture kelima, dan seandainya saat Alvin Tofler datang dan memberikan pemikirannya di depan khalayak Indonesia, saat itu SBY sudah menjabat presiden pastilah acara tersebut ikut menjadi presidential Lecture. Kita tunggu tamu bermutu berikutnya ….(sumber :Dir.Kemahasiswaan ipb/man) dari http://www.ipb.ac.id/

Komentar saya : Tulisan tersebut mudah-mudahan mampu mengikis kesempitan berpikir “bahwa komputer hanya otoritas mahasiswa jurusan komputer atau matematik saja, karena pada dasarnya komputer adalah alat bantu untuk (belajar) mencapai tujuan”. Laporan ini juga sekaligus memperkuat kewaskitaan Alvin Tofler yang pernah mengatakan ( 15 tahun yang lalu) bahwa akan terjadi penguasaan 3 panggung dunia yaitu “optic Fibre”, “Biotechnologi” dan “Information Communication and Technology/ICT”. Saya merasa bersyukur telah menangkap isyarat Alvin Tofler tersebut, sehingga memuatnya di dalam buku mata pelajaran Biologi SMA kelas 3 yang saya susun bersama teman-teman MGMP Biologi dan diterbitkan oleh Penerbit Lontar Mas Jakarta. AKU JUGA BISA dan ANDA PASTI BISA JUGA!!
cerio………

20 Februari, 2008

PELAJAR MENOLAK DISIPLIN?

Filed under: PENDIDIKAN MORAL — edukasipress @ 9:04 am

Pagi-pagi, tayangan layar kaca televisi mengejutkan saya dengan pemberitaan ngamuknya para pelajar SMA Swasta “P” di Jogyakarta, yang memporak-porandakan fasilitas sekolah dan menuntut turunnya Kepala Sekolah mereka, karena dianggap “TERLALU DISIPLIN”?.

Padahal beberapa hari sebelumnya, di dalam perkuliahan saya kepada para Guru TK, SD, SMP dan SLTA yang sedang mengikuti program S1, muncul pertanyaan menarik dari salah satu mahasiswi (Guru SLTP) seperti ini ; “pak bagaimana caranya mengatasi kebandelan seorang siswa yang selalu membuat ulah, bahkan rambutnya sudah di cat merah“.
Kemudian saya balik bertanya kepada penanya (untuk menyelidik) “apakah di sekolah Anda ada butir Tata Tertib Sekolah yang melarang siswa untuk mengecat rambut, selain hitam?”. Nampaknya pertanyaan balik saya justru mengherankan penanya, bahkan seluruh mahasiswa di kelas perkuliahan tersebut. Agar tidak semakin membingungkan maka saya langsung menjelaskan, bahwa Tata Tertib Sekolah itu adalah “komitmen bersama seluruh anggota Masyarakat Sekolah” , sehingga saat penyusunannya harus melewati proses demokratis (bisa sistem perwakilan) yang mencerminkan semua unsur di dalam Masyarakat Sekolah itu. Sebaiknya penyusunan dan atau pembahasan Tata Tertib Sekolah dilaksanakan pada Rapat Kerja Sekolah pada saat pennyiapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), karena Tata Tertib Sekolah adalah bagian dari KTSP itu sendiri. Hampir seluruh cetak biru yang bernama KTSP ini, akan menjadi tuntunan operasional penyelenggaraan proses pendidikan di sekolah, seperti arti dari “kurikulum” itu sendiri. Komite Sekolah secara aktif menjadi bagian yang seharusnya mendorong terciptanya proses perubahan Paradigma Baru (New Paradigm) bahwa Sekolah harus menjadi tempat yang mampu mempelopori proses demokratisasi dan penegakkan HAM. Diawal reformasi dulu ada forum “Reformasi Pendidikan” yang secara aktif mencari formulasi untuk me “re-formasi“-kan masalah-masalah pendidikan di tanah air. Dan proses selanjutnya dari forum-forum seperti itu, sudah dapat kita tebak kelanjutan aktivitasnya yaitu “mati suri” alias bernyawa tapi tanpa makna, dan hal itu terjadi mudah-mudahan bukan karena saking sibuknya ketua forum.
Jadi idealnya, bukan hanya Tata Tertib Sekolah yang harus dijalankan “bersama” akan tetapi seluruh komponen di dalam KTSP yang telah disyahkan didepan Rapat Kerja Sekolah serta disetujui oleh pihak Dinas Pendidikan setempat juga harus diamankan agar tetap bisa berjalan (sesuai dengan proporsi dan tanggung jawab masing-masing unsur, termasuk peserta didik dan Guru serta Kepala Sekolah, Orang Tua Siswa, bahkan Penjaga Sekolah dan Bapak-Ibu Penjual makanan di Kantin Sekolah sekalipun). Memang ada prasyarat yang harus dipenuhi di dalam pemberlakuan ketetapan bersama seperti Undang-undang, Peraturan Pemerintah dan juga berlaku bagi ketetapan KTSP tersebut yaitu, kewajiban pihak tertentu (sekolah) untuk mengundangkannya atau mensosialisasikannya kepada setiap elemen dari unsur pembentuk masyarakat sekolah.
Bahkan di suatu sekolah di bilangan jalan Kramat Raya Jakarta yang saya temui (sekolah yang berkualitas bagus dan sangat dikenal oleh masyarakat) mencantumkan butir Tata Tertib Sekolah yang berbunyi “Peserta didik yang kedapatan menyontek saat ujian/ulangan berlangsung, bersedia dikelaurkan dari sekolah“, dan setiap Orang Tua maupun Peserta didik bersangkutan menandatangani tanda persetujuannya.
Jangan lupa Pelaksanaan KTSP termasuk di dalamnya melaksanakan dan mengamankan “mutu hasil belajar” yang sudah ditetapkan di dalam Kriteria Kompetensi Minimal (KKM) tiap Mata Pelajaran. Seringkali pihak “sekolah” secara sepihak menganulir KKM dengan cara menurunkan Batas Minimal Kompetensi untuk “mengkatrol” nilai peserta didik yang tidak kompeten, pada Rapat Pleno Penetapan Kenaikan Kelas atau Kelulusan yang dipimpin oleh Kepala Sekolahnya. Sehingga saat peserta didik mengantarkan Orang tuanya untuk megambil rapor kepada WaliKelas-nya, yang semula merasakan “stress berat” karena takut gagal (tidak naik kelas atau tidak lulus), namun setelah melihat rapornya, peserta didik bersangkutan justru terheran-heran sambil bergumam “Lho kok naik kelas ya, padahal menurut perhitungan hasil ulangan harian, nilai tugas, dan nilai ulangan umum (blok), seharusnya aku nggak naik kelas”. Maka sang peserta didik yang baru membaca dokumen rapor dengan predikat naik kelas atau lulus, berkata lagi ” Yaah …Maradona saja boleh berkata “tangan tuhan” yang digunakan untuk menceploskan bola ke gawang lawan saat tim Argentina menjuarai Piala Dunia, kenapa saya tidak, toh sama-sama keputusan yang salah dari wasit yang memimpin pertandingan saat itu ataupun keputusan rapat pleno penetapan kenaikan kelas saya, toh sama-sama tidak dapat di ralat lagi, pokoknya gue naik kelas, titik!”.
Mungkin kita semua tidak menyadari bahwa kejadian seperti ini, merupakan awal muasal dari peristiwa yang sangat mengerikan kita semua sebagai bangsa, yaitu runtuhnya pendidikan moral kejujuran sekaligus “Pendidikan Korupsi”.

Kejadian ngamuknya para pelajar SMA Swasta “P” di Jogyakarta, memang tidak terlepas dari berbagai pengaruh, termasuk peneladanan perilaku dan figur yang membanggakan (remaja). Pada kesempatan ini saya tidak ingin mengembangkan masalah perkembangan psikologi remaja sebagai salah satu penyebab tidak patuhnya peserta didik pada ketetapan hukum (Tata Tertib Sekolah) . Namun perlu pula kita renungkan bersama, bahwa selain lemahnya proses sosialisasi Tata Tertib Sekolah, masalah kejujuran adalah nafas dari pendidikan itu sendiri.
Pendidikan tanpa peneladanan kejujuran adalah kebohongan, dan kebohongan adalah kejahatan!, baru titik!.
Diperlukan analisis yang mendalam terhadap berbagai kasus serupa, seperti kejadian diberbagai daerah dengan ngamuknya para mahasiswa yang meluluh-lantakkan kampusnya sendiri sebagai refleksi ketidak puasannya.

18 Februari, 2008

SEPINTAS KONDISI PENDIDIKAN KITA

Filed under: Pendidikan — edukasipress @ 8:52 am

SEPINTAS KONDISI PENDIDIKAN KITA
Laporan dari United Nations Development Program (UNDP) tahun 2008, menunjukkan posisi Human Delopment Indeks (HDI) kita masih berada pada peringkat 107 dari 177 negara yang diteliti (http://hdr.undp.org/en/statistics/). Atau masuk dalam kelompok Medium Human Development pada daftar : 2007/2008 Human Development Index rankings, yang dihuni oleh Negara-negara dengan peringkat 71 sampai dengan 155. Seutuhnya peringkat 177 negara yang diteliti tersebut adalah sebagai berikut:
High Human Development
1. Iceland
2. Norway
3. Australia
4. Canada
5. Ireland
6. Sweden
7. Switzerland
8. Japan
9. Netherlands
10. France
11. Finland
12. United States
13. Spain
14. Denmark
15. Austria
16. United Kingdom
17. Belgium
18. Luxembourg
19. New Zealand
20. Italy
21. Hong Kong, China (SAR)
22. Germany
23. Israel
24. Greece
25. Singapore
26. Korea, Rep. of
27. Slovenia
28. Cyprus
29. Portugal
30. Brunei Darussalam
31. Barbados
32. Czech Republic
33. Kuwait
34. Malta
35. Qatar
36. Hungary
37. Poland
38. Argentina
39. United Arab Emirates
40. Chile
41. Bahrain
42. Slovakia
43. Lithuania
44. Estonia
45. Latvia
46. Uruguay
47. Croatia
48. Costa Rica
49. Bahamas
50. Seychelles
51. Cuba
52. Mexico
53. Bulgaria
54. Saint Kitts and Nevis
55. Tonga
56. Libyan Arab Jamahiriya
57. Antigua and Barbuda
58. Oman
59. Trinidad and Tobago
60. Romania
61. Saudi Arabia
62. Panama
63. Malaysia
64. Belarus
65. Mauritius
66. Bosnia and Herzegovina
67. Russian Federation
68. Albania
69. Macedonia, TFYR
70. Brazil
Medium Human Development
71. Dominica
72. Saint Lucia
73. Kazakhstan
74. Venezuela, Rep. Bov.
75. Colombia
76. Ukraine
77. Samoa

78. Thailand
79. Dominican Republic
80. Belize
81. China
82. Grenada
83. Armenia
84. Turkey
85. Suriname
86. Jordan
87. Peru
88. Lebanon
89. Ecuador
90. Philippines
91. Tunisia
92. Saint Vincent and the Grenadines
93. Fiji
94. Iran, Islamic Rep. of
95. Paraguay
96. Georgia
97. Guyana
98. Azerbaijan
99. Sri Lanka
100. Maldives
101. Jamaica
102. Cape Verde
103. El Salvador
104. Algeria
105. Viet Nam
106. Occupied Palestinian Territories
107. Indonesia
108. Syrian Arab Republic
109. Turkmenistan
110. Nicaragua
111. Moldova
112. Egypt
113. Uzbekistan
114. Mongolia
115. Honduras
116. Kyrgyzstan
117. Bolivia
118. Guatemala
119. Gabon
120. Vanuatu
121. South Africa
122. Tajikistan
123. São Tomé and Principe
124. Botswana
125. Namibia
126. Morocco
127. Equatorial Guinea
128. India
129. Solomon Islands
130. Lao, People’s Dem. Rep.
131. Cambodia
132. Myanmar
133. Bhutan
134. Comoros
135. Ghana
136. Pakistan
137. Mauritania
138. Lesotho
139. Congo
140. Bangladesh
141. Swaziland
142. Nepal
143. Madagascar
144. Cameroon
145. Papua New Guinea
146. Haiti
147. Sudan
148. Kenya
149. Djibouti
150. Timor-Leste
151. Zimbabwe
152. Togo
153. Yemen
154. Uganda
155. Gambia
Low Human Development
156. Senegal
157. Eritrea
158. Nigeria
159. Tanzania, U. Rep. of
160. Guinea
161. Rwanda
162. Angola
163. Benin
164. Malawi
165. Zambia
166. Côte d’Ivoire
167. Burundi
168. Congo, Dem. Rep.

169. Ethiopia
170. Chad
171. Central African Republic
172. Mozambique
173. Mali
174. Niger
175. Guinea-Bissau
176. Burkina Faso
177. Sierra Leone

Peningkatan satu digit dari peringkat HDI di hampir setiap tahunnya, selain dinilai sangat lamban, juga sungguh memprihatinkan kita semuanya, mengingat pada tahun tahun ke depan akan semakin banyak tambahan negara yang ikut serta diteliti.
Penilaian HDI dari UNDP ini, didasarkan pada rerata tingkat harapan hidup, tingkat pengetahuan, tingkat melek huruf, jumlah anak yang memperoleh pendidikan serta kebutuhan harian penduduk yang diukur berdasar GNP Negara yang diteliti.
Data peringkat perguruan tinggi di dunia tahun 2004 yang dirilis oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas, menunjukkan bahwa bahwa dari 500 peringkat perguruan tinggi di dunia, dan 100 peringkat Perguruan Tinggi di Asia, tidak satupun di dalamnya terdapat perguruan tinggi Indonesia. Namun data akhir yang bersumber dari Times Higher Education menunjukkan peringkat perguruan tinggi di dunia tahun 2006, di dalamnya telah ditemui 1 perguruan tinggi Indonesia berada di peringkat 200 dunia, atau 4 Perguruan Tinggi Indonesia berada di peringkat 200-500 dunia. Sementara peringkat atas perguruan tinggi terbaik di dunia masih dipegang oleh Harvard University, Cambridge University dan MIT di Amerika Serikat.
Pada tahun ini, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas telah menerbitkan “50 promising Indonesia University 2006” yang di dalamnya terdapat 26 perguruan tinggi negeri dan 24 perguruan tinggi swasta, serta 7 perguruan tinggi di antaranya berada di provinsi DKI Jakarta. Semoga di dalam 100 promising Indonesia University 2007 mendatang, akan semakin banyak lembaga pendidikan tinggi DKI Jakarta masuk di dalamnya. Marilah kita berikan apresiasi yang tinggi kepada Perguruan Tinggi yang tergugah meraih kembali kepercayaan dari “stake-holder” nya (public accountability), sekaligus sebagai pembiasaan berpikir dan bertindak dalam menghormati dan menegakkan “Budaya Mutu” di kalangan masyarakat luas.

Sejumlah tantangan yang ada dihadapan kita hendaknya justru mampu membangkitkan motivasi kita untuk bangkit menghadapinya. Kita harus yakin dan percaya bahwa dengan kerja keras yang didasari oleh iman dan taqwa, seluruh permasalahan bangsa ini dapat kita selesaikan. Apalagi dihadapan forum ini telah dilahirkan sejumlah ahli –ahli ekonomi yang telah siap menggantikan era keberhasilan seniornya di awal pemerintahan Orde Baru dengan “Wijoyonomic”-kelompok Barkeley-nya, dan kita berharap muncul era “Budiyono_nomic” yang lebih siap bertarung memberdayakan masyarakat kita saat ini.
Era globalisasi sebenarnya tidak lain adalah era liberalisasi ekonomi yang ternyata telah merambah di semua sektor kehidupan nyata. Kondisi faktual ini tidak mungkin lagi dihindari, akan tetapi harus disikapi dengan meningkatkan potensi diri pada setiap individu bangsa ini, melalui proses KEMANUSIAAN yang MEMANUSIAKAN MANUSIA secara MANUSIAWI yaitu PENDIDIKAN!.

12 Februari, 2008

KEMENANGAN BARACK OBAMA KEMENANGAN RAKYAT INDONESIA (1)

Filed under: WACANA — edukasipress @ 8:00 am

BARACK OBAMA    Judul tulisan ini mungkin mewakili harapan sebagian besar rakyat Indonesia, pada pemilihan presiden Amerika Serikat (AS) bulan Nopember 2008 mendatang, walaupun sampai saat tulisan ini saya buat, kepastian menjadi kandidat presiden dari Partai Demokrat-pun masih dipertarungkan antara Barack Obama dengan Hillary Clinton. Namun tidak berlebihan kiranya menukil sekilas kehidupan salah satu calon presiden dari Partai Demokrat yang mulai populer di AS, mengingat hasil akhir pemilihan di berbagai negara bagian menunjukkan persaingan yang begitu ketat dengan calon lain dari kubu partai yang sama yaitu Hillary Clinton sudah mendekati babak akhir.
       Uraian sekilas tentang Barack Obama kali ini (1) lebih difokuskan pada hubungan psikologis antara sang kandidat Barack Obama dengan Indonesia, sebagai tempat, negara ataupun rakyat yang pernah ia tinggali, kenali dan “bergaul” di masa kanak-kanak.
Barack Obama lahir di Honolulu pada tanggal 4 Agustus 1961 dari pernikahan Barack Hussein Obama seorang muslim kulit hitam asal Kenya, dengan ibunya, Aan Dunham seorang kulit putih di East West Center Hawai University Honolulu. Setelah iunya bercerai dengan Obama senior, Aan Dunhan menikah dengan pria Indonesia yang bernama Lolo Soetoro dan tinggal di kawasan Tebet Jakarta Selatan selama 3,5 tahun.
Rumah tinggalnya di Tebet yang sangat sederhana, hanya berkloset jongkok serta tidak ber AC. Di belakang rumahnya banyak ayam kampung peliharaan, sedangkan dekat jendela rumahnya bergelantungan jemuran pakaian. Pendidikan dasarnya dialami Barack Obama dengan bersekolah di SD Fransiscus Asisi serta SDN 01 Jalan.Besuki Menteng Jakarta Pusat. Beliau mengungkapkan pengalaman pendidikan dasarnya di Jakarta dengan menyebut “Kami tak punya cukup uang untuk dapat bersekolah yang berstandar internasional, sehingga masuk ke sekolah biasa, dan berteman dengan masyarakat Indonesia dari kalangan anak pembantu, penjahit maupun anak pegawai rendahan lainnya”. Sewaktu ayah tirinya (Lolo Soetoro) keluar dari TNI dan masuk sebagai karyawan perusahaann minyak asing, secara berangsur-angsur kehidupan ekonominya mulai membaik.
Masa remaja dan SLTA nya dilalui dengan tinggal di Honolulu, yang kemudian menapaki pendidikan tinggi dengan kuliah di Columbia University, New York (1985) dan pendidikan paska sarjananya di selesaikan pada tahun 1991 di Harvard Law School Boston.
Karir politiknya dimulai dengan terpilihnya beliau pada tahun 1995 sebagai senator
di Negara bagian Illinois dan berkantor di Chicago. Pada tahun 2005 beliau terpilih sebagai senator di tingkat federal mewakili Negara bagian Illinois yang berkedudukan di Capitol Hill Washington DC. Saat dilantik sebagai senator pada tahun 2005, banyak masyarakat AS yang mulai memberikan perhatian serta pujian terhadap konsistensi sikap politiknya yang berpihak pada orang miskin di dunia (secara internasional). Banyak pihak menganggap kemuncullan Barack Obama, ibarat munculnya kembali John F Kennedy di masa hidupnya , bahkan kepopulerannya dinilai melebihi kepopuleran Bill Clinton dimasa berkuasa.
Saat Flu Burung melanda negara kita, Barack Obama mempelopori dukungan bantuan kesehatan dari pemerintah AS, melalui lobby diplomatik yang benar. Bahkan sempat mengusulkan agar pemerintah Indonesia, memperoleh bantuan untuk penanggulangan bencana yang banyak menimbulkan kematian.
Sungguh, kehadiran Barack Obama disambut dengan antusisme yang tinggi oleh rakyat Indonesia, yang mendambakan kebebasan, penyetaraan dan keadilan, apalagi beliau pernah tinggal di Indonesia, bergaul dengan anak rakyat jelata sambil mengejar ayam, mainan lumpur, berenang di sungai,
Bukanlah kelainan psikologis manakala, tidak menghapus ikatan emosional yang sulit untuk dilupakan oleh semua orang, termasuk beliau.
             Seandainya Barack Obama kelak menjadi presiden, maka hal itu adalah kehendak serta atas ijin Tuhan, dan hanya Tuhan yang tahu “apakah hal itu merupakan yang terbaik bagi bangsa AS, bangsa Indonesia maupun umat manusia di seluruh dunia”.
Saya dan anda mungkin termasuk yang berharap dan berdoa hal itu memang terjadi, karena hubungan silaturochim antar “hati nurani” memang tidak bisa dibohongi.

source ; Barack Obama, Menerjang Harapan dari Jakarta menuju Gedung Putih, UfukPress, 2007.

11 Februari, 2008

REPRESENTASI KEBIJAKAN PUBLIK UNTUK KEMANUSIAAN

Filed under: PENDIDIKAN MORAL — edukasipress @ 7:25 am

Tanpa mengurangi makna headline Koran Seputar Indonesia (Koran Sindo) edisi mingu, 10 Februari 2007 tentang Pencanangan Gerakan Membaca Koran yang dihiasi dengan foto Bapak Presiden SBY saat membaca Koran Sindo di mimbar kepresidenannya, perkenankan saya hadir untuk mengomentari tulisan di halaman lain denga berbagai pertimangan atau alasan. Pertama, sebagai pembaca Koran Sindo ternyata ada persamaan rubrik kegemaran diantara sesama pembaca setia (termasuk Pak SBY) yaitu berita sepakbola. Sedang alasan kedua, karena percaturan politik saat ini di tanah air, memang belum menggemingkan minat saya untuk mengomentarinya.
Semoga pembenaran saya sudah dirasa cukup untuk hadir dengan, mengembangkan pemikiran yang diilhami isi pada halaman 16 tentang resensi buku yang berjudul Seruan Azan dari Puing WTC dari Imam Feisal Abdul Rauf .

Paska tragedi pengeboman gedung World Trade Center (WTC) tanggal 11 September 2001, pemerintah Amerika Serikat (AS), mengeluarkan pernyataan kontroversial “war and terror” yang dalam prakteknya mendeskreditkan umat Islam, seolah sebagai pelaku dan penyebar teror. Walaupun hal ini telah disanggah pihak AS, dengan serentetan siaran radio dan televisi produksi Voice Of Amerika (VOA) dengan menyiarkan kondisi umat Islam di AS yang hidup aman, damai serta non diskriminatif sampai saat ini.
Melalui resensi buku yang ditulis oleh Mohamad Asrori Mulky, diungkapkan pemikiran Imam Feisal selaku Imam besar masjid AL Farah, tentang kemunculan citra negatif terhadap Islam di AS, yang tidak sepenuhnya disebabkan oleh sentimen negatif pihak nonmuslim yang salah dalam melihat substansi Islam. Sebagian kecil umat Islam yang berperilaku agresif terhadap umat beragama lain, dipandang memiliki kontribusi positif terhadap pencitraan Islam itu sendiri di AS. Meskipun citra negatif karena hal tersebut bukanlah bersifat monotype, mengingat banyak faktor lain yang juga menjadi penyebab seperti faktor politik yang dengan sengaja membangun dukungan dan kekuatan masa di dalam maupun di luar AS melalui “penciptaan musuh bersama” yaitu terorisme yang telah diidentikkan dengan Islam.
Memang sekecil apapun esensi kebijakan publik suatu negara, pasti akan menimbulkan pengaruh terhadap warna politik luar negeri dari negara bersangkutan, dan itulah yang terjadi pada pemerintah AS saat ini, seperti yang ditulis oleh Rahmadya Putra Nugraha dalam penelitian ilmiahnya yang berjudul “Upaya Diplomasi Publik VOA ke Indonesia terhadap citra AS” (Prof.DR.Moestopo University, 2008).

Yang menarik dari pemikiran Imam Feisal adalah, upayanya untuk menjembatani adanya pelurusan terhadap miskonsepsi nilai-nilai dari ajaran Islam, melalui dialog yang bersandar pada tiga pilar yaitu iman, peradaban dan kebudayaan. Setidaknya ada dua argumentasi utama yang membingkai preambule dukungan terhadap dialog tersebut yaitu; pertama, adanya akar yang sama sebagai elemen dasar tuntunan agama Yahudi, Kristen dan Islam sendiri yaitu etika Ibrahim. Ketiga agama tersebut memang mengakui keberadaan tuntunan Nabi Ibrahim, sebagai pendahulu yang sekaligus mengajarkan untuk senantiasa mencintai Tuhan, serta sesama umat manusia tanpa melihat perbedaan ras, agama ataupun latar belakang budayanya. Hal yang kedua, adanya kesamaan mendasar antara nilai-nilai Islami dengan nilai-nilai dasar Konstitusi AS yang menekankan prinsip kebebasan, kesetaraan dan persaudaraan.
Kiranya bukanlah sesuatu yang berlebihan manakala Imam Feisal sebagai warga AS yang berkeyakinan Islam dan secara faktual adalah kaum minoritas, menyatakan hal itu sebagai suatu fakta kebenaran dan tidak semata-mata sebagai upaya pembenaran.

Di Indonesia tercinta, lebih menarik lagi dengan adanya hal yang sama seperti di atas, namun hal itu justru dilakukan oleh pimpinan umat nonmuslim, yang dengan gigih melakukan pengembangan dialog antar agama agar memperoleh eksistensi ke”warga negara”annya melalui perolehan perlindungan serta perlakuan secara adil sebagai sesama hamba Tuhan. Bukankah Muhammad Rasulullah sendiri mencontohkan kepada pengikutnya untuk menghormati hamba Tuhan nonmuslim saat bertamu, dengan menyediakan fasilitasi melakukan ritual keyakinan agama lain di rumah beliau. Bahkan Tuhan-pun telah berfirman untuk menghormati adanya perbedaan keyakinan beragama tersebut dengan “lakum dinukum waliyadhin” (bagimu agamamu dan bagiku agamaku).

Hakekat dari pemikiran secara fundamental terhadap tulisan saya ini adalah, hubungan kemanusiaan yang bernilai serta berbobot humanism-kulturalism antara sesama hamba Tuhan adalah menjadi kewajiban kita semua untuk menghormatinya, namun tidak harus dengan melakukan ritual agama secara bersama, karena memang hakekatnya Tuhan telah menciptakan adanya perbedaan tersebut sebagai rahmat, dan bukan sebagai pemecah belah, apalagi pemusnah antar sesamanya. Dan selayaknya kebijakan publik yang dijalankan melalui komunikasi publik suatu negara, juga bertujuan pada nilai-nilai kemanusaan yang sama.
Secara lugas dan terbuka perlu disampaikan bahwa memang Tuhan tidak menciptakan “Agama Bersama” bagi hamba-hambaNya, karena dengan keberbedaan yang ada, kita justru dapat hidup “bebas dan merdeka dalam beragama, serta saling menghormatinya”, bukankah Tuhan yang Maha Tahu tentang kebaikan dibalik semua hal ini.

Itulah hakekat sebenarnya dari kemanusiaan yang adil dan beradab.

Darsana Setiawan,
Pengamat pendidikan, dosen Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, dan beberapa Perguruan Tinggi Swasta di Jakarta.

31 Januari, 2008

PENDIDIKAN BERSANTUN DALAM BERPOLITIK

Filed under: PENDIDIKAN MORAL — edukasipress @ 7:51 am

pak Harto & AM Fatwa         Kalau saja ada orang yang percaya dengan pikiran saya tentang figur yang layak diteladani berakhlak mulia dalam kisaran peristiwa “pra” dan “paska” wafatnya Pak Harto, maka saya akan menunjuk Pak AM Fatwa (Wakil Ketua MPR RI).          Selain sifat gentlemen yang ditampilkan layak diteladani, memang hamba Allah yang satu ini berpolitik tidak sekedar dengan akal sehat, akan tetapi juga dengan hati nurani atau qolbu yang juga sehat. Betapa tidak, seorang pelakon politik yang pernah dijebloskan di dalam penjara, saat setelah “bebas”dan keluar dari penjara, malah datang bersilaturachim ke rumah mantan penguasa yang menjebloskannya ke dalam penjara, di Cendana. Dan malah menjalin hubungan humanism antar keduanya (Pak Harto beserta keluarga Cendana dan Pak AM Fatwa) menurut pengakuan beliau berjalan baik-baik saja, seolah tak pernah terjadi pertentangan politik yang pernah berakhir sampai di dalam bui. Ternyata keduanya bersedia “islah” dengan “ikhlas“!. Bahkan pak AM Fatwa bicara lugas, (insyaAllah jujur dan saya meyakininya) dengan nada datar mengatakan bahwa beliau sempat menjenguk pak Harto saat sakit di RSPP menjelang wafatnya, dan sempat pula mencium kening pak Harto, (tentunya dengan penuh penghormatan dan kecintaan). Dalam hati, saya berkata “Ya Tuhan mudah-mudahan dugaan berprasangka baik terhadap seorang hamba Allah yang hanya berdasar perasaan serta naluri kemanusiaan saya ini tidak salah“, walaupun kalau diukur oleh berbagai lembaga poling PILKADA yang ada di santero tanah air, tentu dan pasti akan ditolak, karena masalah taraf significansi-nya berdasar kuantifikasi statistical, ataupun malah saya dianggap orang yang nggak jelas juntrugannya.
MasyaAllah, mulia benar akhlak orang satu ini, semakin disakiti justru semakin pula dia mendekati.
Walau dalam pembicaraan di layar kaca, beliau meng “
cover” hubungannya dengan Cendana tersebut, dilandasi oleh adanya pemikiran bahwa “perbedaan pandangan politik seseorang, tidak lantas melahirkan permusuhan dalam hubungan kemanusiaannya”.
Kehadiran Pak AM Fatwa di Astana Giribangun saat pemakaman salah satu putra bangsa terbaik (Pak Harto) menghadap Sang Chalik, untuk menjalani fase kehidupan ketiga di alam kubur, serta penantian panjang ke alam akherat, setelah fase kehidupan di alam rahim dan alam dunia, mencerminkan keteguhan hati seorang hamba Tuhan yang sudah “
mapan” dalam memposisikan kejiwaannya yang lebih “mencintai Tuhan dibanding segalanya”. Dan jiwa politisi seperti inilah yang kita cari untuk dijadikan sebagai teladan bagi anak cucu kita ke depan. Terlepas dari ketidaktahuan saya tentang kejadian masa depan yang ada digenggaman Allah, saya berdoa “semoga Tuhan menjaga serta melindungi pak AM Fatwa dari perubahan sikap yang jauh dari kesantunan sosial, serta beristiqomah mengikuti contoh penuntunnya yaitu Muhammad Rosulullah SAW”.
Politik ternyata bisa dijalankan
tidak dengan jiwa dan qolbu yang kotor, akan tetapi tergantung niat pelakunya serta bimbingan yang pernah diterima maupun sikap bawaan yang melekat dalam diri seseorang.
Berbahagialah orang tua dari hamba Allah yang sholeh/sholechah, atas karunia
sodaqoh jariah yang dijanjikan Allah SWT, karena menurut pemahaman “genetic” setiap perbuatan seseorang memang tidak dapat terlepas sepenuhnya dari siapa sejatinya bapak atau ibunya serta besarnya pengaruh lingkungan terhadap perkembangan jiwa anak bersangkutan.        Nampaknya Tuhan masih menyayangi kita dengan memberikan “figur politisi yang tersisa“, namun memiliki keunggulan komparatif dalam akhlak mulia. Itulah yang sebenarnya menjadi bahan pembelajaran bagi kita bersama.
Tanpa keinginan sekecil apapun untuk
menyamakan dan atau mempersandingkan kedua hamba Allah yang saya tulis di atas, saya menyampaikan “Salam dan rasa hormat” untuk dua anak bangsa yang berakhlak mulia Pak Harto dan Pak AM Fatwa.
Terima kasih pak AM Fatwa, mohon maaf kalau tulisan saya ada yang salah, karena kesempurnaan hanyalah milik Allah semata, dan semoga Allah Swt senantiasa merahmati bapak, amien.

Cijantoeng Jakarta Timur, akhir bulan Januari 2008. darsana setiawan.

  

 

28 Januari, 2008

ANAK BANGSA IKUT BERDUKACITA

Filed under: Uncategorized — edukasipress @ 6:42 am

Innalillahi wainnaillaihi rojiun
Telah kembali keharibaan empunya (Yang Maha Punya, Allah Swt) salah satu hambaNya yang dipilih, yaitu Bapak Haji Mohammad Soeharto, mantan Presiden Republik Indonesia yang kedua.
Beliau wafat pada hari Minggu tanggal 27 Januari 2007 sekitar jam 13.10 wib di RSP Pertamina Jakarta.Sebagai hamba Tuhan yang pernah menerima tuntunan agama;           ” manakala ada hamba Tuhan yang lain meninggal dunia, maka kewajiban kita mengingat-ingat hanyalah kebaikannya semasa yang bersangkutan hidup di dunia”.
Oleh karena itu mari kita sambut himbauan Bapak Presiden Republik Indonesia yaitu Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, untuk memberikan penghormatan kepada “orang tua kita bersama” yang pernah memberikan “pengabdian” kepada segenap warga bangsa, DENGAN SEGALA KELEBIHAN MAUPUN KEKURANGANNYA.
Tiada seorang manusiapun yang sempurna, karena kesempurnaan itu adalah kemutlakkan yang hanya menjadi milik Allah semata. Kalaupun Allah memberikan perkecualian, itupun hanya diberikan kepada para rasulNya dengan cara melindungi dan atau menghindarkan dari perbuatan “dosa”, yang dalam bahasa agama disebut “maksum”.

Selamat jalan Pak Harto, hamba pilihan yang ditetapkan Allah “telah” memimpin lebih dari 200 juta hamba Allah yang lain (dari tahun 1966 s.d tahun 1998), kami ikhlas melepasmu untuk menghadap Sang Chalik, jasa baikmu kepada bangsa tetap kami kenang, dan “semoga Allah Swt menganugerahkan ampunan terhadap seluruh kekurangan dan kekhilafan semasa hidupmu wahai Bapak Bangsa, Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang dan Maha Pemurah”.
Amien ya robal alamien.

Laman Berikutnya »

Blog di WordPress.com.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.